Canting

Canting, alat untuk membatik
Canting adalah alat untuk menuliskan malam cair pada selembar kain dalam proses membuat batik. Proses yang dimaksud adalah proses pembuatan batik tulis. Bentuknya seperti tampak pada gambar, bagian utama adalah pipa kecil yang mengalirkan malam cair dari penampung.
Terdapat banyak jenis canting. Berdasarkan fungsinya, dikelompokkan:

  • Reng-rengan: jenis canting ini digunakan untuk membuat pola (motif dasar, sebelum dihiasi dengan tambahan stilasi atau 'diblok' untuk membuat bentuk solid) kerangka batik. Reng-rengan berukuran cucuk sedang, dan bercucuk tunggal.
  • Isen: canting isen digunakan dalam tahapan mengisi pola kerangka batik yang dibuat dengan canting reng-rengan. Jenis canting ini bercucuk kecil, bercucuk tunggal atau rangkap (canting berujung lebih dari satu).

Bagian ujung canting yang berfungsi seperti pena adalah carat atau cucuk. Bagian ini yang menempelkan malam cair pada kain, seperti mata pena yang menempelkan tinta pada kertas. Diameter cucuk tentu saja membedakan lebar titik atau garis yang ditorehkan canting pada kain. Berdasarkan ukuran cucuk, canting dibedakan atas:

  • Carat (cucuk) kecil.
  • Carat (cucuk) sedang.
  • Carat (cucuk) besar.

Untuk kemudahan penorehan atau 'penulisan' malam cair, canting dapat bercucuk lebih dari satu. Sehingga sekali menorehkan akan didapat torehan atau 'jejal' cucuk lebih dari satu. Berdasarkan jumlah cucuk, canting dikenal bernama:

  • Cecekan, canting bercucuk tunggal (satu), berukuran kecil dan digunakan untuk membuat titik-titik kecil (Bahasa Jawa: cecek) atau garis-garis halus saat membatik.
  • Loron,. bercucuk ganda yang berjajar atas dan bawah, dimaksudkan agar dapat mengeluarkan malam secara bersamaan, agar pembatik bisa membuat garis rangkap yang sama jaraknya.
  • Telon, bercucuk tiga dengan susunan membentuk segi tiga. meninggalkan 'jejak' berupa tiga buat titik yang membentuk segitiga simetris.
  • Papatan,canting ini bercucuk empat, digunakan untuk membuat empat buah titik yang membentuk bujursangkar sebagai pengisi bidang.
  • Liman. bercucuk lima yang berfungsi untuk membuat bujursangkar kecil yang dibentuk oleh empat buah cucuk dan sebuah titik di tengahnya, bukan membentuk pola segilima.
  • Byok. ini bercucuk tujuh, dan berfungsi untuk membentuk lingkaran kecil yang terdiri atas kumpulan titik. Istilah canting byok juga digunakan untuk menyebut canting bercucuk ganjil. (1, 3, atau 5)
  • Renteng atau galaran. ini selalu bercucuk genap, dan biasanya paling banyak enam cucuk, tersusun dari bawah ke atas. renteng dipakai saat membentuk beberapa garis sekaligus, agar jarak garis yang satu ke garis lain, sama.

Dengan canting yang bercucuk lebih dari satu dapat dibuat pola yang terdiri dari titik atau garis lebih dari satu sekaligus dalam pola atau jarak yang simetris.

0 komentar:

Posting Komentar